Said Didu Mengaku Salah, Tuduhan Korupsi ke EO Salah Diksi

 Said Didu Mengaku Salah, Tuduhan Korupsi ke EO Salah Diksi

Pertemuan Said Didu dan Backstagers yang Diprakarsai iNews | IST

DUNIAEOJAKARTA.COM – Pertemuan antara Said Didu dan perwakilan pelaku usaha industry event organizer berakhir dengan jabat tangan yang melegakan. Said Didu, mantan pejabat BUMN yang dikenal vocal tersebut, secara terbuka mengakui kekeliruan perkataanya. Industri event organizer yang ia sebut “sarang abal-abal” dan “sarang korupsi” ternyata memiliki wajah lain yang selama ini tenggelam.

Seperti kita ingat, pekan sebelumnya, jagat maya diguncang tayangan yang membuat ratusan pelaku usaha event organizer menarik napas dalam-dalam. Said Didu, sosok yang selama ini dikenal sebagai pengkritik keras korupsi, melontarkan diksi yang tajam. Industri EO disebutnya sebagai sarang praktik tidak bersih. Dalam hitungan jam, tayangan tersebut di unggah di berbagai platform media social dan viral. Stigma melekat.

Namun di balik kegaduhan, terciptalah sebuah pertemuan yang melahirkan kesepakatan menggembirakan. Said Didu dan perwakilan industri kreatif duduk bersama. Bukan untuk berdebat. Melainkan untuk mengurai benang kusut kesalahpahaman.

“Saya minta maaf atas kesalahan diksi tersebut,” ujar Said Didu dalam pertemuan yang digelar tertutup itu.

Pengakuan ini bukan sekadar formalitas. Said Didu mengklarifikasi bahwa maksud sesungguhnya dari pernyataannya bukanlah menyerang industri EO secara keseluruhan. Ia sedang menyampaikan peringatan agar pejabat pemerintah tidak lagi menunggangi jasa EO untuk praktik korupsi. Namun pilihan katanya, diakuinya, keliru dan mencederai banyak pihak.

Tak bisa dipungkiri, industri event organizer di Indonesia bukanlah entitas kecil. Berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Penyelenggara Acara Indonesia, sektor ini menyerap ribuan tenaga kerja kreatif. Mulai dari desainer panggung, teknisi audiovisual, koreografer, hingga katering dan dekorasi. Satu acara kelas menengah bisa melibatkan lebih dari 50 pekerja lepas yang menggantungkan hidup dari proyek ke proyek.

Para pelaku industri yang hadir dalam pertemuan tersebut menyampaikan dengan kepala dingin. Mereka merasa pernyataan Said Didu telah mencederai reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Stigma “sarang korupsi” bukan hanya tidak akurat, tapi juga berpotensi menghancurkan kepercayaan klien yang selama ini mengandalkan jasa mereka.

“Kami menerima klarifikasi dan permintaan maaf ini dengan sikap terbuka,” demikian pernyataan para pelaku industri usai pertemuan.

Yang menarik, diskusi yang berlangsung konstruktif ini justru melahirkan kesepakatan lebih besar. Kedua belah pihak sepakat untuk berdamai. Bukan sekadar mengakhiri polemik, tapi untuk mewujudkan visi bersama Indonesia yang lebih bersih dan lebih kreatif.

Apa kunci sukses dari resolusi konflik ini Bukan sekadar permintaan maaf. Melainkan pengakuan bahwa setiap pihak memiliki nilai yang perlu dihormati. Said Didu membawa semangat antikorupsi yang selama ini menjadi perjuangannya. Para pelaku EO membawa bukti nyata kontribusi ekonomi dan kreativitas yang selama ini sering diabaikan.

Pertemuan itu menghasilkan lebih dari sekadar perdamaian. Ada peringatan tegas yang disepakati bersama. Said Didu kembali menegaskan pesan utamanya. Pejabat pemerintah jangan lagi menggunakan jasa EO sebagai celah praktik korupsi. Sementara para pelaku industri berkomitmen untuk terus menjaga integritas profesi mereka.

Para pelaku industri kini berharap sektor event organizer mulai diperhatikan dari sisi nilai dan kontribusi kreatifnya. Bukan lagi dipandang melalui lensa praktik birokrasi yang korup. Sebuah harapan yang sebenarnya sederhana. Bahwa industri yang melibatkan ribuan pekerja kreatif ini layak dinilai dari karya, bukan dari stigma.

Diskusi konstruktif yang berlangsung beberapa jam itu menjadi semacam terapi kolektif. Kedua belah pihak menyadari bahwa musuh bersama bukanlah satu sama lain, melainkan praktik korupsi yang merusak ekosistem. Said Didu tetap bisa menjadi pengkritik. Industri EO tetap bisa menjalankan profesinya dengan martabat. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Visi Indonesia yang lebih bersih dan lebih kreatif bukanlah sekadar slogan yang diucapkan di akhir pertemuan. Ia adalah komitmen yang dirajut dari pengakuan akan kesalahan, keberanian untuk meminta maaf, dan kematangan untuk menerima kritik.

Pertemuan yang berawal dari kegaduhan media sosial ini mengajarkan sebuah hal mendasar. Dalam demokrasi yang sehat, kritik dan klarifikasi bisa berjalan beriringan. Yang dibutuhkan hanyalah ruang untuk duduk bersama, mendengarkan, dan mengakui bahwa setiap diksi yang dilontarkan di ruang publik membawa konsekuensi.

Said Didu pulang dengan pelajaran tentang pilihan kata. Para pelaku EO pulang dengan nama baik yang mulai pulih. Dan publik? Mereka menyaksikan bahwa perdamaian di ruang publik masih mungkin terjadi. Bahkan setelah badai terburuk sekalipun. |WAW-DEOJ

Related post