MTQ Internasional 2026: Gema dari Istiqlal, Piala Gibran, dan Doa untuk Wukuf

 MTQ Internasional 2026: Gema dari Istiqlal, Piala Gibran, dan Doa untuk Wukuf

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional 2026

DUNIAEOJAKARTA.COM – Tiga hari di Masjid Istiqlal, Jakarta. Sejak Sabtu hingga Senin pekan kemarin, suara ayat-ayat suci tidak pernah benar-benar padam. Bergantian meluncur dari tenggorokan para qori dan qoriah terbaik dari sembilan negara. Bukan sekadar lantunan, melainkan getaran yang membuat bulu kuduk merinding dan hati yang letih mendadak teduh.

Said Aldi, salah satu mata di balik layar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional 2026, menghela napas lega. Di sela-sela kepungan wartawa di koridor Istiqlal, Senin (25/5/2026), ia berkata dengan suara yang masih bergetar oleh haru. “Sungguh sejuk hati dan syiar Islam itu menggema.”

Ia tidak berlebihan. Selama 72 jam, Masjid Istiqlal bukan hanya menjadi rumah ibadah terbesar se-Asia Tenggara, tetapi juga panggung peradaban. Para peserta datang dari berbagai penjuru: Singapura, Malaysia, hingga perwakilan DMDI (Dunia Melayu Dunia Islam) dari berbagai provinsi di Indonesia. Mereka adalah qori dan qoriah berkelas internasional, bukan pemula. Setiap makhraj dan tajwid mereka adalah pertarungan kehormatan.

Namun di balik kemegahan suara, ada cerita tentang bagaimana Jakarta berhasil merebut hati dunia. Ada tiga piala tetap yang diperebutkan: dari Ketua DPD RI H. Sultan Najamuddin, Menteri ESDM H. Bahlil Lahadalia, dan Menteri Agama H. Nasaruddin Umar. Tapi yang paling bergengsi adalah piala bergilir Wakil Presiden RI, Bapak Gibran Rakabuming. Hanya yang terbaik yang namanya terukir di sejarah.

Dan yang terbaik itu akhirnya lahir.

Dari meja juri, keluar nama Ahmad Mustaqim dari DMDI Sumatera Utara sebagai juara pertama qori. Ia mengalahkan DR Anas Al Hifni (Kalbar) dan Adek Putra Masrianda (Jakarta) yang harus puas di peringkat tiga. Sementara dari jajaran qoriah, kejutan datang dari Jakarta. Yanti Susanti menyabet juara satu, disusul Luthfi Latifah dari Jawa Barat, dan Syamimi Assahira dari Kepulauan Riau. Malaysia, yang diwakili Nor Azlima Binti Ibrahim, hanya mampu menempati peringkat enam. Singapura punya wakil di posisi enam lewat Hadi Irfan Bin Basri.

Tapi ada satu momen yang membuat acara ini berbeda dari sekadar kompetisi. Di akhir penghitungan, ketika nama-nama pemenang telah diumumkan, seluruh peserta dan pengurus Pemuda Masjid Dunia dari sembilan negara tidak langsung bersorak. Mereka justru duduk bersila, menengadahkan tangan.

Doa bersama dipanjatkan. Bukan untuk kemenangan, melainkan untuk kesehatan dan keselamatan jamaah haji yang saat itu tengah wukuf di Arafah. Di tengah hiruk-pikuk lomba, ada kesadaran kolektif bahwa syiar Islam tidak hanya tentang siapa yang terbaik melantunkan ayat, tetapi juga tentang siapa yang paling ingat untuk mendoakan saudaranya yang jauh di tanah suci.

Said Aldi menutup percakapan dengan wartawan dengan nada penuh syukur. Ia berharap MTQ Internasional ini menjadi suntikan semangat bagi negara-negara dengan wadah Pemuda Masjid dan DMDI. Agar syiar nilai-nilai Islam yang moderat terus menyala. Bahwa Indonesia bukan hanya tuan rumah, tetapi pusat gerakan keislaman global yang ramah dan membumi.

Di luar Masjid Istiqlal, langit Jakarta senja itu jingga. Suara azan Magrib mulai menyapa. Dan piala bergilir milik Wakil Presiden itu, untuk sementara waktu, akan tersimpan rapi di lemari kaca Jakarta. Menunggu siapa yang berani merebutnya tahun depan. |WAW-DEOJ

Related post