Menjaring Suara Anak Muda lewat Kampanye Kartu Merah untuk Pekerja Anak
Commemoration of the 2026 World Day Against Child Labour
Peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak di Jakarta tak hanya seremonial. ILO dan Atma Jaya menyulap kampus menjadi panggung inspirasi, menggandeng mahasiswa sebagai agen perubahan lewat pendekatan yang atraktif dan menyentuh.
DUNIAEOJAKARTA.COM – Di sebuah ruang pertemuan di kampus Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Jumat siang itu, hiruk-pikuk bukan berasal dari debat hukum atau kuliah biasa. Lebih dari seratus mahasiswa Fakultas Hukum duduk dalam lingkaran interaktif. Ada permainan, petikan gitar, dan sesekali tepuk tangan meriah. Bukan panggung hiburan, melainkan momentum refleksi.
Mereka tengah merayakan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak yang jatuh pada 12 Juni. Tema global tahun ini “Kartu Merah untuk Pekerja Anak: Fair play untuk anak, pekerjaan layak untuk dewasa” diangkat Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bersama Atma Jaya. Acara ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah laboratorium kreatif bagaimana sebuah kampanye sosial bisa dikemas dengan pendekatan yang membumi dan menyentuh generasi Z.
Kunci sukses acara ini terletak pada kolaborasi lintas sektor yang difasilitasi proyek RealGains ILO, yang didanai Pemerintah Kanada. Yang menarik, acara ini tidak hanya menghadirkan birokrat atau akademisi di podium. ILO dan panitia dari kampus merancang sebuah sesi yang nyaris tanpa jarak. Lebih dari 100 mahasiswa duduk sejajar dengan perwakilan pemerintah, serikat pekerja, asosiasi pengusaha, hingga aktivis yang dulu adalah korban pekerja anak.
Salah satu momen yang membuat ruangan membeku adalah ketika Abdul Rohim berbicara. Pria ini bukan pembicara profesional. Ia adalah mantan pengamen jalanan. Sebagai anak, ia membanting tulang di jalanan, menyanyi untuk membantu ekonomi keluarga. Kini, ia memimpin organisasi non-pemerintah yang fokus memperluas akses pendidikan bagi anak-anak rentan. Ceritanya tentang memutus rantai pekerja anak dibawakan tanpa air mata berlebihan, namun mengiris hati. Ini adalah storytelling yang hidup, bukan sekadar angka.
“Kami tidak datang untuk menggurui,” ujar Asmin Fransiska, Dekan Fakultas Hukum Atma Jaya, di sela acara. Menurutnya, universitas memiliki peran vital sebagai fasilitator kesadaran kolektif. Dan itu terbukti. Para mahasiswa tidak hanya duduk manis. Mereka terlibat dalam permainan edukatif, menyanyikan lagu tema kampanye, hingga secara spontan mengunggah momen ke media sosial masing-masing. Hasilnya, kampanye ini tidak berhenti di ruangan. Ia menyebar ke timeline, story, dan diskusi daring.
Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, menekankan bahwa acara ini dirancang untuk menumbuhkan rasa kepemilikan. “Kampanye ini menegaskan bahwa penghapusan pekerja anak adalah tanggung jawab bersama,” katanya. Dan kaum muda adalah fondasinya.
Dari sudut pandang event organizer, inovasi terletak pada pemilihan point of view. Biasanya peringatan global semacam ini berpusat pada seminar kaku. Namun di sini, ILO dan Atma Jaya memilih pendekatan peer-to-peer. Mereka menyadari bahwa mahasiswa hukum tidak butuh kuliah tambahan. Mereka butuh pengalaman emosional yang membekas. Dengan memadukan testimoni personal, aktivasi interaktif, dan misi sosial yang jelas, acara ini berhasil menciptakan viral moment alami.
Data yang disajikan juga faktual, bukan rekayasa. Menurut laporan terbaru ILO dan UNICEF, hampir 138 juta anak di dunia terlibat pekerja anak pada 2024. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik mencatat 1,05 juta anak usia 5–17 tahun bekerja. Angka itu setara 1,8 persen dari total kelompok usia tersebut. Maka kampanye seperti ini bukan pilihan, melainkan keharusan.
Acara ditutup dengan penampilan musik oleh mahasiswa dan pembacaan komitmen bersama. Tidak ada standing ovation yang dibuat-buat, tapi ada energi yang berbeda. Para peserta pulang dengan kartu merah simbolis dan sebuah misi: menjadi suara bagi anak-anak yang kehilangan masa kecilnya.
Bagi industri event organizer, pelajaran berharga dari acara ini adalah bahwa kampanye sosial paling sukses tidak selalu butuh panggung megah atau artis papan atas. Yang paling membekas adalah ketika acara bisa menciptakan ruang aman untuk berbagi cerita, menggerakkan hati, dan memberikan peran nyata kepada generasi muda. Itulah fair play sejati. Bukan hanya untuk anak, tapi untuk masa depan kita semua. |WAW-DEOJ