“Ikhtiar” Jadi Tema: Mengapa Pendekatan Personal Lebih Ampuh dari Sekadar Pamer Teknologi di Sebuah Acara?

 “Ikhtiar” Jadi Tema: Mengapa Pendekatan Personal Lebih Ampuh dari Sekadar Pamer Teknologi di Sebuah Acara?

(ki-ka) Verti Tri Wahyuni, momfluencer (instagram @ve.idn) sekaligus pengguna lama ngaji.ai, Vanya Sunanto, COO Vokal.ai, Fara Abdullah, Chief Business Development Officer (CBDO) Vokal.ai, dan Adhitya Zulfan, Head of Marketing Vokal.ai bersemangat memanfaatkan hasil transformasi ngaji.ai dari aplikasi belajar mengaji menjadi aplikasi pendamping ibadah harian mulai Ramadan ini.

DUNIAEOJAKARTA.COM – Di awal Ramadan, biasanya kita semua sama. Niat menggunung, semangat membara. Ingin khatam Al-Qur’an, ingin salat tepat waktu, ingin dzikir pagi dan petang. Tapi kita juga tahu persis di mana letak masalahnya: bukan di awal, melainkan di pertengahan jalan. Rutinitas kerja yang tak kenal waktu, energi yang terkuras, dan godaan untuk menunda-nunda sering kali membuat niat baik itu perlahan menguap. Kebingungan muncul. Mulai dari mana? Bagaimana agar tidak berhenti?

Dari kebingungan kolektif itulah sebuah ide lahir. Bukan sekadar aplikasi baru, melainkan sebuah transformasi. Ngaji.ai, yang tiga tahun terakhir dikenal sebagai teman belajar membaca Al-Qur’an, memutuskan untuk tak lagi hanya mengajarkan, tetapi juga menemani. Menjelang Ramadan 1447 H ini, mereka berbenah besar. Tak hanya wajah aplikasi yang diperbarui, tapi juga misi yang diperluas: dari sekadar alat baca, menjadi pendamping ibadah harian yang personal.

Vanya Sunanto, COO Vokal.ai, induk perusahaan ngaji.ai, melihat perubahan ini sebagai sebuah keniscayaan. “Pengguna kembali setiap hari karena merasa ditemani,” katanya. Dan benar, data membuktikan. Hingga saat ini, 403 ribu pengguna telah mengunduh ngaji.ai, dengan 39 ribu di antaranya berlangganan premium. Rata-rata waktu penggunaan harian mencapai lebih dari tujuh menit. Angka yang mungkin kecil, tapi jadi penanda: aplikasi ini hadir di sela-sela kesibukan, bukan sekadar ikon diam di layar ponsel.

Yang menarik, transformasi ini tak sekadar teknologi. Ada pendekatan baru yang coba diusung, yang terasa lebih manusiawi. Fara Abdullah, Chief Business Development Officer Vokal.ai, menyebutnya sebagai upaya menghadirkan pendamping ibadah yang kontekstual. “Banyak orang ingin hidupnya lebih selaras dengan nilai Al-Qur’an, tapi merasa kewalahan. Kami hadir bukan untuk menghakimi atau membebani. Perlahan, konsisten, dan relevan,” ujarnya. Dengan pengalaman sebelumnya mengelola aplikasi gaya hidup Muslim global, Fara optimis ngaji.ai bisa menjadi jembatan antara nilai agama dan ritme hidup urban.

Fitur anyar yang menjadi primadona adalah Ikhtiar. Di sini, pengguna tak lagi disuguhi daftar panjang amalan yang bisa membuat pusing. Sebaliknya, mereka diajak memilih satu fokus ikhtiar. Bisa sesederhana menjaga lisan, lebih disiplin salat tepat waktu, atau meluangkan waktu untuk dzikir. Setiap ikhtiar dipecah menjadi tugas-tugas kecil selama tujuh hari. Target besar dihancurkan menjadi langkah-langkah mini yang terasa ringan dan realistis.

Verti Tri Wahyuni, seorang momfluencer dan pengguna lama ngaji.ai, merasakan langsung bedanya. “Yang paling berat dari ibadah itu bukan niatnya, tapi konsistensinya. Fitur Ikhtiar bikin saya merasa tidak sendirian. Target besar dipecah jadi langkah kecil, jadi tidak terasa menekan,” tuturnya. Pendekatan ini seolah menjawab pertanyaan klasik umat Islam modern: bagaimana menjalani agama secara utuh tanpa harus meninggalkan dunia.

Tapi ngaji.ai tak berhenti di ranah personal. Mereka paham, ibadah juga soal kepedulian sosial. Selama dua tahun, mereka bermitra dengan RumahZakat. Awalnya dari penyaluran bantuan untuk Palestina melalui alokasi 25 persen pendapatan premium. Kini kerja sama meluas ke bidang pendidikan, penanggulangan bencana, dan program Ramadan. Di ranah edukasi, mereka menggandeng institusi di Hulu Sungai Tengah dan Kota Bandung. Dengan komunitas muslim dan mitra gaya hidup seperti Noore Sport serta One Day One Juz, mereka coba menjembatani literasi Al-Qur’an dengan keseharian.

Adhitya Zulfan, Head of Marketing Vokal.ai, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah bentuk komitmen. Bagi mereka, dampak sosial sama pentingnya dengan pengalaman digital yang ditawarkan. “Ibadah bukan hanya soal relasi personal dengan Allah, tapi juga kepedulian sosial yang nyata,” katanya.

Lalu ke mana arah ngaji.ai setelah ini? Tahun 2026 disebut sebagai momentum. Kerja sama dengan institusi bisnis dan pemerintah tengah dirintis. Dalam jangka panjang, mereka bahkan melirik pasar Asia Tenggara dengan sekitar 290 juta populasi Muslim. Fara Abdullah percaya, teknologi AI yang mereka kembangkan bisa relevan di mana pun, selama pendekatannya memahami budaya, ritme hidup, dan kebutuhan muslim masa kini.

Yang ditawarkan ngaji.ai mungkin bukan gebrakan revolusioner. Tak ada AI yang menggantikan kiai, tak ada algoritma yang menghapus niat. Tapi di san letak keunikannya. Mereka mencoba menjawab kebutuhan paling mendasar sekaligus paling sulit: konsistensi. Mereka hadir bukan sebagai pengganti, melainkan pengingat. Bukan sebagai guru, melainkan teman.

Ramadan tahun ini, ngaji.ai mengajak umat muslim menjadikan bulan suci ini sebagai awal, bukan puncak. Awal untuk membangun kebiasaan ibadah yang konsisten, terstruktur, dan terasa dekat. Karena untuk hidup lebih dekat dengan Al-Qur’an, tak perlu menunggu waktu luang yang sempurna. Cukup buka genggaman, pilih satu ikhtiar, dan melangkah perlahan. Satu langkah kecil, satu waktu, ditemani oleh genggaman yang tak pernah pergi. |WAW-DEOJ

Related post