Bukan Sekadar Bukber, Ada Strategi di Balik Dapur Ramadan Kenangan Brands

 Bukan Sekadar Bukber, Ada Strategi di Balik Dapur Ramadan Kenangan Brands

Serah Terima Donasi Ramadan dari Kenangan Brands untuk Masyarakat Aceh

DUNIAEOJAKARTA.COM— Ramadan selalu membawa cerita tersendiri bagi para event organizer. Di bulan ini, ruang-ruang seremonial berubah fungsi, katering membludak pesanan, dan klien berlomba menampilkan wajah dermawan mereka. Tapi di balik agenda tahunan yang nyaris klise itu, Kenangan Brands mencoba membaca panggung dengan cara berbeda.

Pada 4 Maret 2026, perusahaan yang menaungi Kopi Kenangan ini menggelar buka puasa bersama di tiga kota Jakarta, Binjai, dan Langsa. Dari luar, ini terlihat seperti kegiatan korporat biasa. Tapi bagi para event organizer yang terlibat, ini adalah pekerjaan rumah besar yang membutuhkan sensitivitas tinggi.

Di Jakarta, tim pelaksana acara harus menyulap aula Yatim & Dhuafa Mizan Amanah Kemandoran menjadi ruang hangat yang tidak canggung. Anak-anak panti menjadi tamu utama. Mereka bukan sekadar pelengkap seremoni. Meja makan ditata melingkar kecil agar percakapan mengalir alami. Tidak ada panggung tinggi yang memisahkan manajemen dengan anak-anak. Semua duduk lesehan, berbincang, menunggu azan.

“Ini tantangan tersendiri. Kami tidak ingin acara ini terkesan menggurui atau sekadar lip service,” ujar seorang sumber dari tim pelaksana yang enggan disebut namanya.

Di Langsa, tantangan berbeda muncul. Kota ini baru saja dilanda banjir. Masyarakat masih dalam masa pemulihan. Menggelar acara di tengah situasi darurat membutuhkan kehati-hatian ekstra. Tim EO lokal bekerja cepat berkoordinasi dengan aparatur setempat. Mereka tidak ingin acara perusahaan justru mengganggu logistik kebencanaan atau memicu kerumunan yang tidak aman.

Hasilnya, Kenangan Brands memilih menyalurkan paket sembako secara bertahap. Isinya bukan barang biasa: minyak, beras, mi instan, susu, biskuit, teh, gula, kopi, obat-obatan, pembalut, dan popok. Detail ini penting. Pembalut dan popok jarang masuk daftar bantuan, padahal menjadi kebutuhan mendesak bagi keluarga dengan bayi dan perempuan di lokasi bencana. Tim EO memastikan distribusi tidak heboh, tidak ada seremoni serah terima yang berlebihan. Bantuan langsung diantar ke titik titik warga terdampak.

Di Binjai, pendekatan lebih soft. Buka bersama digelar bersama komunitas setempat, tanpa liputan media besar. Acara berjalan seperti pertemuan keluarga besar. Manajemen duduk bersila, makan sepiring dengan warga. Tim EO lokal sengaja mengatur agar tidak ada sekat antara tamu undangan dan panitia.

Apa yang dilakukan Kenangan Brands sebenarnya bukan hal baru, tapi eksekusinya yang membedakan. Perusahaan ini mencatatkan diri sebagai salah satu korporasi yang serius merancang kegiatan sosial dengan pendekatan kemanusiaan, bukan sekadar pencitraan. Pada Desember 2025, mereka telah menyalurkan Rp100 juta bagi masyarakat dan karyawan terdampak banjir di Sumatera. Artinya, kegiatan Ramadan kali ini adalah kelanjutan dari pola yang sudah dibangun sebelumnya.

Edward Tirtanata, Co-Founder & Group CEO Kenangan Brands, dalam siaran pers mengatakan, “Kami percaya bahwa pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan kontribusi sosial.”

Pernyataan itu barangkali terdengar standar. Tapi di lapangan, tim EO membaca ada pesan tersembunyi: perusahaan sedang menguji model kegiatan sosial yang bisa direplikasi di kota kota lain dengan biaya efisien namun dampak maksimal. Buka bersama tidak harus mewah. Yang penting hadir dan menyentuh.

Yang juga menarik, acara ini tidak dibanjiri publikasi. Hanya satu tautan foto pendamping yang disebarkan ke media. Itu pun berisi dokumentasi sederhana, tanpa embel embel logo besar atau spanduk warna warni. Bagi event organizer, ini sinyal bahwa klien mulai bosan dengan model kegiatan sosial yang berisik. Mereka lebih memilih cerita yang sunyi tapi nyata.

Tiga kota, tiga pendekatan, satu benang merah: ingin didengar tanpa berteriak. Di tengah membludaknya kegiatan corporate social responsibility selama Ramadan, Kenangan Brands justru memilih jalan yang lebih tenang. Dan di situlah letak kecerdikan mereka.

Bagi para event organizer, ini pelajaran penting. Merancang kegiatan sosial tidak cukup dengan daftar tamu dan menu berbuka. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca peta sosial setempat, memahami kebutuhan darurat, dan merancang acara yang tidak membuat penerima manfaat merasa seperti obyek belas kasihan.

Di Langsa, tim EO harus memastikan paket sembako tidak berakhir di gudang atau dijual kembali. Mereka bekerja sama dengan ketua RT setempat, mendata langsung siapa saja yang benar benar membutuhkan. Di Jakarta, tim harus mengatur waktu berbuka agar anak anak tidak kelelahan menunggu. Di Binjai, mereka harus menyiapkan kegiatan ice breaking agar percakapan tidak kaku.

Semua kerja kecil ini tidak masuk siaran pers. Tapi justru di sanalah denyut acara sesungguhnya. Bahwa buka bersama bukan soal menu kolak dan takjil, melainkan soal bagaimana sebuah perusahaan bisa duduk sederajat dengan mereka yang biasa hanya menjadi latar belakang laporan tahunan.

Dan ketika azan magrib berkumandang di tiga kota berbeda, semua tim EO menarik napas lega. Mereka tahu, acara ini tidak akan viral dalam semalam. Tapi mungkin, bagi anak anak panti di Kemandoran atau warga banjir di Langsa, kehadiran mereka adalah cerita yang akan diingat lama. |WAW-DEOJ

Related post