Gaya Hidup Digital Anak Muda: Literasi Keuangan Meningkat, Tapi Disiplin Masih Jadi PR
Gaya HIdup Digital Anak Muda
DUNIAEOJAKARTA.COM — Di sebuah kafe di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Raka (26) sibuk menekan layar ponselnya. Satu menit sebelumnya ia memesan kopi susu via aplikasi ojek daring. Dua menit setelahnya, ia membayar tagihan langganan platform musik. Di sela-sela itu, ia sempat mentransfer uang ke rekening temannya untuk patungan tiket konser bulan depan.
Tiga tahun lalu, Raka mungkin harus bolak-balik ke ATM atau gerai minimarket untuk urusan serupa. Kini, semua cukup diselesaikan sambil duduk santai. Namun ada satu hal yang tak berubah sejak dulu. Uang di rekeningnya masih sering habis tanpa jejak yang jelas.
Cerita Raka bukan khas miliknya seorang diri. Ia adalah potret dari jutaan anak muda Indonesia yang hidup di era di mana transaksi keuangan bisa dilakukan hanya dalam beberapa sentuhan layar. Gaya hidup serba cepat dan praktis ini telah menjadi keseharian, beriringan dengan pesatnya adopsi layanan keuangan digital. Ngopi sepulang kerja, berlangganan platform hiburan, belanja daring, semua terintegrasi dalam genggaman tangan.
Di tengah arus transaksi yang kian deras itu, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah anak muda bisa menahan konsumsi. Tantangannya kini bergeser ke soal yang lebih rumit. Mereka harus belajar mengelola uang secara sadar agar gaya hidup tetap jalan tanpa mengorbankan stabilitas keuangan jangka menengah dan panjang.
Lindawati Octaviani, Direktur Keuangan SeaBank Indonesia, menyebut generasi muda hari ini sangat aktif dan produktif. Tantangan mereka bukan sekadar menahan konsumsi, tapi mengelola uang dengan lebih sadar dan terencana. Dengan pengelolaan yang tepat, kata dia, gaya hidup bisa tetap berjalan tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.
Literasi Meningkat, Praktik Tertinggal
Secara nasional, kesadaran akan pentingnya pengelolaan keuangan menunjukkan tren positif. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan atau SNLIK 2025 mencatat indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen. Angka ini naik dibanding periode sebelumnya dan menandakan semakin banyak masyarakat yang memahami produk serta layanan keuangan.
Namun peningkatan literasi tak otomatis berbanding lurus dengan praktik di lapangan. Otoritas Jasa Keuangan berkali-kali mengingatkan bahwa literasi harus diiringi perilaku konsisten, terutama di kalangan generasi muda yang paling aktif bertransaksi digital.
Kemudahan transaksi digital memang memberi ruang bagi anak muda untuk menikmati hidup lebih fleksibel. Tapi di balik kenyamanan itu, pengelolaan keuangan jangka menengah kerap tersendat. Fokus pada kebutuhan harian dan gaya hidup sering membuat perencanaan keuangan ke depan berjalan tanpa disadari, atau bahkan terabaikan.
Keseharian ini tercermin dari kebiasaan banyak anak muda yang mengandalkan satu rekening utama untuk berbagai kebutuhan. Dari transaksi rutin hingga hiburan, semuanya bercampur jadi satu. Tanpa pemisahan dana yang jelas, arus pengeluaran harian berpotensi menyisakan ruang yang semakin sempit bagi simpanan yang lebih terencana.
Trik Sederhana Memisahkan Rekening
Untuk persoalan itu, Lindawati menawarkan jalan keluar yang terbilang sederhana tapi kerap dilupakan banyak orang. Pemisahan rekening untuk kebutuhan harian dan simpanan jangka menengah bisa membantu anak muda menata keuangan tanpa harus mengorbankan gaya hidup.
Ia menjelaskan, tabungan digital bisa berperan sebagai pusat kendali transaksi harian. Sementara simpanan berjangka seperti deposito dapat menjadi alat bantu disiplin finansial. Karakternya yang tidak mudah dicairkan secara spontan bisa menahan godaan konsumsi impulsif.
Pendekatan ini sejalan dengan cara Gen Z dan milenial memanfaatkan bank digital sebagai bagian dari gaya hidup. Kemudahan, kecepatan, dan transparansi menjadi alasan utama bank digital semakin lekat dengan keseharian mereka. Tren ini tercermin dari rata-rata transaksi harian di SeaBank yang tercatat lebih dari 10 juta transaksi per hari.
Untuk dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat, deposito digital mulai dipandang sebagai pilihan relevan. Selain menawarkan imbal hasil yang stabil, karakter berjangka dari deposito membantu menahan dorongan konsumsi impulsif di tengah derasnya transaksi digital.
Lindawati menambahkan, pihaknya melihat deposito digital bukan hanya sebagai produk simpanan, tetapi juga alat bantu membangun kebiasaan finansial yang sehat. Ini cocok bagi anak muda yang ingin tetap menikmati hidup, sambil memastikan sebagian uangnya bekerja dengan aman.
Di balik kemudahan dan kepraktisan layanan digital, aspek keamanan tetap menjadi fondasi utama. SeaBank beroperasi sebagai bank yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan serta berada dalam pengawasan Bank Indonesia. Nasabah juga terlindungi sebagai peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan.
Pada akhirnya, gaya hidup modern tidak harus menjadi musuh keuangan. Dengan pendekatan yang lebih sadar dan terencana, anak muda bisa menjalani aktivitas sehari-hari tanpa rasa khawatir, sambil menyiapkan fondasi keuangan yang lebih stabil untuk masa depan. |WAW-DEOJ