Sampah Kota, Panggung Baru bagi Event Organizer
DUNIAEOJAKARTA.COM – Ada yang berbeda dalam ruang rapat Danantara Indonesia beberapa pekan terakhir. Bukan para insinyur atau pegiat lingkungan yang duduk berjam-jam membahas diagram alir teknologi pembakaran sampah. Tapi para periset acara, desainer pameran, dan ahli komunikasi publik. Mereka sibuk menyusun skenario.
Proyek Waste-to-Energy yang memasuki fase tender dengan 24 perusahaan internasional memang sedang jadi perbincangan hangat di koridor Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi. Tapi di balik hiruk-pikuk teknologi insinerasi Jerman dan investasi miliaran dolar dari perusahaan Tiongkok, ada denyut nadi lain yang mulai berdetak. Dunia event organizer tengah bersiap menyambut datangnya panggung baru.
Fadli Rahman, Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, tak hanya berbicara tentang grate incinerator atau kapasitas tonase sampah saat memberikan keterangan pers Kamis pekan lalu. Ia menyelipkan satu kalimat yang luput dari perhatian banyak orang: “Konsorsium ini kami harapkan bisa memberikan transfer teknologi dengan perusahaan lokal atau pemda.”
Di sanalah pintu masuk bagi industri kreatif acara.
Bayangkan tender ini dimenangkan. Empat kota Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta akan memiliki fasilitas megah pengolah sampah menjadi listrik. Bukan sekadar pabrik dengan cerobong asap, tapi infrastruktur publik yang harus diperkenalkan, dijelaskan, dan pada akhirnya diterima warganya. Proses itu butuh perantara. Butuh narasi. Butuh panggung.
Di sinilah para event organizer menemukan lahan basah baru.
PT Jinjiang Environment Indonesia, salah satu peserta tender, sudah membuktikan diri di Palembang dengan fasilitas berkapasitas seribu ton sampah per hari. Mereka mengucurkan dana 120 juta dolar AS untuk membangun pembangkit listrik tenaga sampah dengan kontrak konsesi tiga puluh tahun. Tiga dekade adalah waktu panjang untuk membangun hubungan dengan masyarakat. Butuh lebih dari sekadar mesin. Butuh festival, pameran, dan program edukasi yang terus-menerus.
Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd bahkan sudah mulai bergerak lebih awal. Mereka menandatangani kontrak penyediaan peralatan dengan perusahaan Indonesia di kawasan Qingshan Park. Kolaborasi ini membuka mata bahwa proyek lingkungan tak melulu soal teknis, tapi juga soal bagaimana teknologi diperkenalkan kepada publik melalui kemasan yang manusiawi.
SUS Indonesia Holding Limited yang sedang membangun fasilitas 35 MW di Makassar memahami betul tantangan ini. Dengan volume sampah 1.300 ton per hari yang harus dikelola, mereka tak hanya berhadapan dengan mesin, tapi dengan ribuan warga yang setiap hari memproduksi sampah. Butuh pendekatan budaya. Butuh festival kebersihan, lomba daur ulang, dan pameran energi terbarukan yang menarik.
Wangneng Environment Co., Ltd yang mengklaim mampu menghasilkan 3,04 miliar kWh listrik per tahun membawa cerita lain. Angka sebesar itu, jika dikonversi ke dalam bahasa rumah tangga, setara dengan kebutuhan listrik 2,5 juta rumah kecil menengah di Indonesia. Bayangkan kampanye publik yang bisa dibangun dari narasi itu. Sebuah pameran interaktif tentang listrik dari sampah bisa menjadi tontonan edukatif yang mengubah cara pandang warga kota.
Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd dengan 250 proyek di berbagai negara membawa pengalaman bagaimana membangun fasilitas sekaligus membangun penerimaan publik. Teknologi grate incinerator dari Martin GmbH Jerman yang mereka lokalisasi mungkin terlalu rumit untuk dijelaskan dalam spanduk-spanduk. Tapi pameran sains yang dirancang baik bisa membuatnya bisa dipahami anak sekolah.
Empat kota yang menjadi lokasi tahap pertama proyek adalah panggung yang sedang disiapkan. Bali dengan industri pariwisatanya butuh pendekatan berbeda dari Bekasi yang merupakan penyangga ibu kota. Yogyakarta dengan basis pelajar dan budayanya punya tantangan sendiri dibanding Bogor dengan isu Puncaknya.
Setiap kota butuh perlakuan acara yang khas. Butuh festival peluncuran, open house fasilitas, lomba inovasi daur ulang untuk anak muda, konferensi internasional, hingga karnaval kebersihan yang melibatkan ribuan warga. Event organizer tak lagi sekadar penyelenggara seremonial, tapi mitra strategis dalam membangun legitimasi sosial proyek publik.
Dari 24 perusahaan yang menjadi peserta tender, kelima perusahaan Tiongkok yang terungkap profilnya ini punya satu kesamaan: mereka semua sadar bahwa memenangkan hati publik sama pentingnya dengan memenangkan tender. Mereka datang dengan teknologi dan modal, tapi mereka butuh penerjemah lokal. Butuh tangan-tangan kreatif yang bisa mengubah ceramah teknis tentang gasifikasi sampah menjadi pengalaman yang menyentuh.
Danantara Indonesia mewajibkan konsorsium dengan perusahaan lokal. Ini bukan sekadar syarat administratif. Ini pengakuan bahwa proyek sebesar ini tak bisa berjalan tanpa jembatan budaya. Event organizer adalah salah satu jembatan itu.
Pada akhir Februari 2026, pemenang tender akan diumumkan. Tapi pertandingan sesungguhnya baru akan dimulai setelah itu. Pertandingan merebut hati warga empat kota, mengajak mereka percaya bahwa sampah yang mereka buang setiap pagi bisa berubah menjadi listrik yang menyalakan lampu kamar tidur mereka.
Di situlah panggung utama para event organizer didirikan. Bukan sekadar membuat acara, tapi merancang perjumpaan antara warga biasa dan teknologi asing yang rumit. Menciptakan pengalaman yang membuat orang rela antre melihat bagaimana sampah lembap dari dapur mereka berubah menjadi energi.
Panggung itu sedang menanti para pemainnya. |WAW-DEOJ